
Pukul 16.30
Kami masih berjalan di mulut kawah Ceremai. Kami berjalan agak cepat karena memburu waktu, ini sudah sabtu sore dan awan dibawah terlihat hitam dengan petir yang berkilat2. Membuatku agak ngeri. Jalan di sisi kawah kemudian semakin mengecil, sangat kecil, tipis sekali sehingga tak boleh salah sedikit pun, di sebelah kiri adalah kawah yang entah dalamnya berapa meter, yang pasti jauh sekali, dalam sekali dan jangan sampai jatuh kesitu, sedangkan di sebelah kanan itu semak-semak. Aku pikir ini berbahaya kalau sampai tergelincir.

“Cer aya jalan lain teu?” kataku pada cery
“enya paraur lewat dieu mah, ka handap we ka semak2” jawab cery
Sementara Novan dan Raden masih di belakang mengikuti. Aku dan cery loncat merangsak ke semak2, yang ternyata memang ada jaln setapak yang sempit. Jadi tampak tidak meyakinkan. Kami terus saja menyusuri jalan di dinding gunung tersebut. Sampai akhirnya kami menemukan arang berserakan bekas perapian. Ah berarti ini jalan yang benar.


Dan sampailah kami ke tempat dimana plang tersebut berada, lalu menatap kebawah. Kupikir ini dia yang dinamakan Pangasinan yang terkenal dengan kecuramannya tersebut. Dan mulailah kami turun.


Aku dan cery seperti yang balapan, tak pikir panjang untuk mencari pijakan karena yang kami pikirkan hanya ingin cepat sampai. Track ini curam sekali sampai kakiku lelah dibuatnya. Sedangkan novan dan raden masih diatas berusaha turun juga. Saya dan cery loncat sana, loncat sini, meraih batang pohon, menggelantung, ngobrol dan kadang tertawa2 bercanda.
Setelah kira2 satu jam aku dan cery sampailah di Pos pangasinan. Oh Indah sekali pemandangannya, awan bergumpal besar dan dekat sekali, tidak jadi hujan sepertinya, di sela-sela awan terlihat kapal2laut. Oh itu laut jawa. Kami duduk dan foto2 disitu. Menunggu Novan dan Raden yang belum sampai juga. Minum sedikit untuk membasahi tenggorokan., hah sial, ini air sudah sedikit lagi gawat, cery juga tinggal sebotol kecil sama denganku.


Lalu terdengar suara gerusukan di balik pepohonan, oh itu Raden dan Novan sudah dekat.. dan akhirnya mereka sampai di Pangasinan, istirahat sejenak. Lalu kami lanjutkan perjalanan. Wah sudah magrib ini sepertinya, track turunan yang sangat terjal dan juga sempit, masuk ke sela2 akar pohon yang kecil. Nafas terengah-engah dan memburu. Duduk dulu, ini sudah maghrib namun tak terdengar suara adzan. Hmm ini tandanya masih jauh sekali dari pemukiman warga. Ohh ya Allah badan ini sudah lelah tapi ingin cepat sampai.
Aku nyalakan HP dan ternyata ada sinyal, lalu aku telpon pacarku Puji untuk memberi kabar. Ah lega sekali mendengar suaranya menyuruhku berhati2 dan cepat pulang. Tolong kasih tahu ibu, aku masih asruk-asrukan di leuweung ya.. hehehe kataku,, aku matikan lagi HP untuk hemat energy. Dan perjalanan pun kami lanjutkan.
Hari benar2 sudah gelap ini sehingga dua senter yang tersisa kami nyalakan kembali. Menjadi semakin sulit saja karena jalanan terjal menjadi gelap, pijakan semakin tak terlihat. Namun tiba2 di kejauhan kami mendengar suara orang2 dan sesaat kemudian dibawah kumelihat api menyala. Oh ada orang, Alhamdulillah, perasaan agak tenang karena kamu jadi ada kawan. Mereka sedang beres2 tenda siap untuk turun juga di pos Sangga Buana. Kami pun bersalam2an, jumlah mereka mungkin ada 10 orang atau lebih. Kami ngobrol dan solat maghrib dulu dan akhirnya memutuskan untuk turun bersama.
Kami mulai perjalanan turun bersama sambil ngobrol2, ternyata mereka dari Jawa, tapi aku lupa dari kota apa. Wajahnya pun tidak ingat karena memang tidak terlihat karena gelap. Turunan demi turunan kamu lewati bersama, aku dan cery sering jatuh karena tidak bawa senter, tersandung lah,, berguliong2 di tanah, terjedot batang pohon, aduh ini perjalanan gila.
Lama-lama aku mulai kesal, karena ritme berjalan mereka kok lambat sekali, dan sering sekali beristirahat setiap ada tempat datar. Mereka juga meminta air, wah aku bohong saja demi kesejahteraan pribadi, karena jujur punyaku juga tinggal setengah botol kecil. Maaf ya mas-mas.
Di tengah perjalanan, kira-kira jam 10 malam, ada beberapa orang yang memutuskan untuk berhenti dan ngecamp disitu karena salah satu temannya merasakan pusing kepala. Ya sudah kami tinggalkan mereka berempat.
Lihat jam sudah hamper tengah malam. Jalanan selalu curam tiada habisnya, bahkan ada yang harus loncat setinggi kira-kira 2-3 meter, aku lemparkan dulu carrier ke bawah, lalu loncat seperti tarzan dan meraih akar pihin yang besar sehingga aku bergelantungan dan kemudian loncat ngusruk ke tanah, kami loncat bergantian.
Oh ini katanya pos bapak tere. Yang sangat curam. Aku berjalan didepan bersama mas-mas yang bawa senter, fisikku sudah sangat melemah karena terakhir makan itu ya tadi siang kira2 pukul 14.00. sedangkan sekarang sudah jam 00.00, sementara fisik terus saja tidak mengenal istirahat. Dan ketika sampai di pos tanjakan seruni, kami putuskan untuk berpisah dari rombongan dari jawa tersebut. Kami berempat berunding dan mengecek persediaan air, yang ternyata kami semua sudah tidak punya air sama sekali. Oh Tuhan bagaimana ini, tenaga sudah terkuras habis, perjalanan masih jauh, pos linggarjati itu entah dimana, kami berempat sudah kepayahan. Namun semangat untuk pulang membuat kami terus bertahan dan berjalan melalu turunan2 yang curam dan gila. Oh untung kami naik tak lewat sini, kami bergerusukan terus di tengah malam itu, tersandung lagi, terjatuh lagi, kacamata lepas. Tidak bernafsu untuk mengobrol sama sekali, melihat ketiga temanku juga berwajah stress dan kelelahan ditambah habisnya persediaan air.
Melihat jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, sedangkan kami masih gerusukan di hutan antah berantah ini. Lalu akhirnya sampailah di pos kuburan kuda. Aku dan cery sampai duluan dan duduk sambil merenung karena tak tahu mau bilang apa. Tenggorokan kering sekali, ludah pun sampai kental sekali, badan panas dan keringat entah sudah berapa liter, juga beban di pundak yang malah semakin terasa berat.
Novan dan raden tiba, Novan datang2 langsung lepas carrier dan menjatuhkan diri di tanah dan tak bersuara, kukira pingsan, ternyata dia sudah ngorok, edan secepat itu dia bisa tidur. Ya sudah biarpun kata orang tempat ini angker, persetan saja, kami sudah sangat cape dan ingin tidur, dengan tenaga yang tersisa kami dirikan tenda. Tanpa berpikir panjang kami langsung ngorok, walau tenggorokan sangat kering dan perut yang sudah lapar meronta2. Energiku sudah defisit.
20 DESEMBER 2009
Aku terbangun duluan dan kulihat sudah jam 06.00 pagi. Aku keluar duluan dari tenda dan terasa ada energy baru. Kuhirup udara hutan yg segar, tapi tidak terlalu dingin, aku bangunkan teman2ku. Kami beres2 dan packing lagi. Tiba2 perutku terasa mules sekali. Aku cari tempat tersembunyi dan dimulailah ritual pagi di lubang di tanah yang kugali sendiri. Hehehehe persetan tempat ini angker.
Haus memang masih terasa, tenggorokan kering tiada duanya, lalu raden membuka2 isi tasnya, dia mengeluarkan tolak angin, “minum ini aja ki, lumayan kan ada airnya, hehehe” oh benar juga kata dia, kureguk itu jamu tolak angin, lumayan lah sedikit membasahi tenggorokan, duduk dulu, makan oreo yg tersisa, berdoa bersama. Dan perjalanan kami lanjutkan.
Seperti biasa aku berpasangan dengan cery di depan, Novan dan raden di belakang. Badanku memang masih lelah, tiada asupan makanan yg layak ketubuh ini sejak kemarin aku dan cery berjalan setengah berlari. Putus asa juga sih karena hutan kok tak ada habisnya seperti ini. Namun syukur track sudah tidak terlalu terjal seperti tadi malam. Tapi tetap saja masih ada sesekali turunan yg curam yang membuatku harus bergelantungan di akar gantung.
Aku berjalan sambil melihat ke sekitar. Siapa tahu ada botol air berisi yg ketinggalan, karena rasa hausku sudah bukan kepalang. Aku menemukan batang pohon yang akhirnya kujadikan walking stick saja. Hehe walking stick dari pohon singkong, hah pohon singkong? Berarti ini sudah dekat perkebunan, ini lansgsung mengisi kembali semangatku.
Track kok terasa berputar2 begini ya namun sudah tak ada lagi turunan curam sampai akhirnya kami sampai di pos Kondang Amis 1350MDPL. Ah sudah dekat cer..Novan dan Raden bahkan tak terdengar suaranya sama sekali, tapi biarlah ini tracknya jelas kok, tidak akan nyasar.
Kami percepat langkah setengah berlari, kadang beristrahat sejenak untuk membetulkan nafas. Badan sudah terasa sangat panas, tapi keringat yg keluar kok sedikit amat, kupikir cairan ditubuhku sudah sekarat. Lambat laun di depan pepohonan semakin jarang dan vegetasi semakin berubah berganti hutan pinus. Kulihat di kejauhan ada pagar-pagar kayu pembatas kebun. Ah akhirnya hutan ini telah habis.
Pundakku perih, kakiku sakit sekali, tenggorokanku sangat kering, perutku lapar tiada dua namun harus terus berjalan. Di kebun kulihat seorang bapak tua sedang berkebun, kami sapa dia dan bertanya dengan bahasa sunda, kata dia “cibunar mah 5 menit deui den, sok we terus, sakedap deui da”// nuhun pak.. padahal tadi dia menyuruh kami singgah dulu dan minum tapi kenapa kami tidak berhenti dulu ya .. aneh..
Apa yang 5 menit?? Sudah 20 menit kami berjalan ini masih saja belum kulihat rumah penduduk.. dan kira2 setengah jam baru kamu melihat rumah2 penduduk. Ah Alhamdulillah, kucari pintu2 rumah yg terbuka dengan maksud ingin minta minum, itu saja. Namun tak ada satupun yg terbuka, seperti tak berpenghuni.
Kami temukan warung, tapi kok tidak ada orang nya, kami gedor2 pintunya tak ada yg keluar, dan tiba-tiba.. ada hujan kecil turun.. tanpa berunding aku dan cery sama-sama mangap keatas, ahh lumayan segar air hujan membasahi tenggorokan tapi kok hujannya tiba2 berhenti, hanya sebentar. Ah payah..
Track semakin luas dan jelas dan berganti menjadi batuan. Jalanan terus saja menurun. Kudengar suara sungai tapi entah dimana suara itu berasal, tidak ketemu, stress aku dibuatnya. Lalu aku dengar suara motor di kejauhan, aku percepat langkahku.. jalan semakin turun, di kejauhan terlihat sekonyong2 ada sebentuk bangunan seperti warung, dan warungnya buka, kulihat di mejanya ada teko air dan makanan seperti gorengan.. Hahahaha cer aya warung cer!
Sakit di kakiku dan pedih di pundakku tak kurasakan lagi, aku dan cery berlari sekencang2nya menuju warung itu.. sampai di warung kami langsung minta izin si ibu warung tersebut untuk minum. “sok mangga mangga den ngaleueut”, kami banting saja carrier kami dan langsung berebutan air dari teko. Air satu teko besar habis oleh berdua dan itu masih kurang, kami minta lagi, dan si ibu mengambil air lagi dari dalam. Dia member kami singkong goreng yg langsung kami makan dengan lahapnya.

Kami duduk-duduk di warung itu, kulihat jam sudah jam 10.00. minum kopi, makan indomie telor dan merokok. Alhamdulillah selamat juga. Kulihat gunung Ceremai yang berdiri tegak dan si ibu cerita, bahwa kemarin2 juga ada yang datang malam2 minta minum, dia seorang wanita dan katanya sudah meminum air kencing sendiri.. wahh parah sekali, dia senasib tapi untung tak sampai minum air kencingku sendiri..

Di warung aku sempat sholat dzuhur dan tiduran.. rasanya damai sekali, hatiku senang dan tenang. Ibu itu baik sekali, karena memberi singkong goring dengan gratis, biji nangka rebus gratis, air putih gratis..
Oh ibu kau adalah bidadari penyelamat kami. I love you