Selasa, 17 Agustus 2010

Neraka Linggarjati : Jalan Pulang Yang Terjal





Pukul 16.30
Kami masih berjalan di mulut kawah Ceremai. Kami berjalan agak cepat karena memburu waktu, ini sudah sabtu sore dan awan dibawah terlihat hitam dengan petir yang berkilat2. Membuatku agak ngeri. Jalan di sisi kawah kemudian semakin mengecil, sangat kecil, tipis sekali sehingga tak boleh salah sedikit pun, di sebelah kiri adalah kawah yang entah dalamnya berapa meter, yang pasti jauh sekali, dalam sekali dan jangan sampai jatuh kesitu, sedangkan di sebelah kanan itu semak-semak. Aku pikir ini berbahaya kalau sampai tergelincir.


“Cer aya jalan lain teu?” kataku pada cery
“enya paraur lewat dieu mah, ka handap we ka semak2” jawab cery
Sementara Novan dan Raden masih di belakang mengikuti. Aku dan cery loncat merangsak ke semak2, yang ternyata memang ada jaln setapak yang sempit. Jadi tampak tidak meyakinkan. Kami terus saja menyusuri jalan di dinding gunung tersebut. Sampai akhirnya kami menemukan arang berserakan bekas perapian. Ah berarti ini jalan yang benar.

Akhirnya di kejauhan terlihat patok atau plang bertuliskan Puncak, itu tandanya ada jalur disitu yang kami yakini sebagai Linggarjati. Jalanan ini sempit sekali, ranting2 pohon tajam sering menghajar wajah kami, terkena kacamata sampai lepas. Ritme agak kupercepat dalam berjalan. Pundakku serasa semakin pedih karena berat carrier serasa tidak berkurang. Oh air tinggal sebotol lagi.




Dan sampailah kami ke tempat dimana plang tersebut berada, lalu menatap kebawah. Kupikir ini dia yang dinamakan Pangasinan yang terkenal dengan kecuramannya tersebut. Dan mulailah kami turun.

Langit mulai menggelap, saya agak panic. Track pangasinan berupa batuan terjal yang terdiri dari bongkahan2 batu besar dan kecil, kadang aku terpeleset di batu kecil sehingga menyebabkab batu itu menggelinding ke bawah, oh untung tak ada orang dibawah, dan juga langsung membuatku bertindak, baru saja mau ngomong eh diatas sudah ada yang teriak “awas yoooock!!”.. batu lumayan gede sedang menggelinding kearah saya dan cery.. dan untung saja tidak kena karena menghindar..



Aku dan cery seperti yang balapan, tak pikir panjang untuk mencari pijakan karena yang kami pikirkan hanya ingin cepat sampai. Track ini curam sekali sampai kakiku lelah dibuatnya. Sedangkan novan dan raden masih diatas berusaha turun juga. Saya dan cery loncat sana, loncat sini, meraih batang pohon, menggelantung, ngobrol dan kadang tertawa2 bercanda.


Linggarjati



Setelah kira2 satu jam aku dan cery sampailah di Pos pangasinan. Oh Indah sekali pemandangannya, awan bergumpal besar dan dekat sekali, tidak jadi hujan sepertinya, di sela-sela awan terlihat kapal2laut. Oh itu laut jawa. Kami duduk dan foto2 disitu. Menunggu Novan dan Raden yang belum sampai juga. Minum sedikit untuk membasahi tenggorokan., hah sial, ini air sudah sedikit lagi gawat, cery juga tinggal sebotol kecil sama denganku.




Lalu terdengar suara gerusukan di balik pepohonan, oh itu Raden dan Novan sudah dekat.. dan akhirnya mereka sampai di Pangasinan, istirahat sejenak. Lalu kami lanjutkan perjalanan. Wah sudah magrib ini sepertinya, track turunan yang sangat terjal dan juga sempit, masuk ke sela2 akar pohon yang kecil. Nafas terengah-engah dan memburu. Duduk dulu, ini sudah maghrib namun tak terdengar suara adzan. Hmm ini tandanya masih jauh sekali dari pemukiman warga. Ohh ya Allah badan ini sudah lelah tapi ingin cepat sampai.

Aku nyalakan HP dan ternyata ada sinyal, lalu aku telpon pacarku Puji untuk memberi kabar. Ah lega sekali mendengar suaranya menyuruhku berhati2 dan cepat pulang. Tolong kasih tahu ibu, aku masih asruk-asrukan di leuweung ya.. hehehe kataku,, aku matikan lagi HP untuk hemat energy. Dan perjalanan pun kami lanjutkan.

Hari benar2 sudah gelap ini sehingga dua senter yang tersisa kami nyalakan kembali. Menjadi semakin sulit saja karena jalanan terjal menjadi gelap, pijakan semakin tak terlihat. Namun tiba2 di kejauhan kami mendengar suara orang2 dan sesaat kemudian dibawah kumelihat api menyala. Oh ada orang, Alhamdulillah, perasaan agak tenang karena kamu jadi ada kawan. Mereka sedang beres2 tenda siap untuk turun juga di pos Sangga Buana. Kami pun bersalam2an, jumlah mereka mungkin ada 10 orang atau lebih. Kami ngobrol dan solat maghrib dulu dan akhirnya memutuskan untuk turun bersama.

Kami mulai perjalanan turun bersama sambil ngobrol2, ternyata mereka dari Jawa, tapi aku lupa dari kota apa. Wajahnya pun tidak ingat karena memang tidak terlihat karena gelap. Turunan demi turunan kamu lewati bersama, aku dan cery sering jatuh karena tidak bawa senter, tersandung lah,, berguliong2 di tanah, terjedot batang pohon, aduh ini perjalanan gila.

Lama-lama aku mulai kesal, karena ritme berjalan mereka kok lambat sekali, dan sering sekali beristirahat setiap ada tempat datar. Mereka juga meminta air, wah aku bohong saja demi kesejahteraan pribadi, karena jujur punyaku juga tinggal setengah botol kecil. Maaf ya mas-mas.

Di tengah perjalanan, kira-kira jam 10 malam, ada beberapa orang yang memutuskan untuk berhenti dan ngecamp disitu karena salah satu temannya merasakan pusing kepala. Ya sudah kami tinggalkan mereka berempat.

Lihat jam sudah hamper tengah malam. Jalanan selalu curam tiada habisnya, bahkan ada yang harus loncat setinggi kira-kira 2-3 meter, aku lemparkan dulu carrier ke bawah, lalu loncat seperti tarzan dan meraih akar pihin yang besar sehingga aku bergelantungan dan kemudian loncat ngusruk ke tanah, kami loncat bergantian.

Oh ini katanya pos bapak tere. Yang sangat curam. Aku berjalan didepan bersama mas-mas yang bawa senter, fisikku sudah sangat melemah karena terakhir makan itu ya tadi siang kira2 pukul 14.00. sedangkan sekarang sudah jam 00.00, sementara fisik terus saja tidak mengenal istirahat. Dan ketika sampai di pos tanjakan seruni, kami putuskan untuk berpisah dari rombongan dari jawa tersebut. Kami berempat berunding dan mengecek persediaan air, yang ternyata kami semua sudah tidak punya air sama sekali. Oh Tuhan bagaimana ini, tenaga sudah terkuras habis, perjalanan masih jauh, pos linggarjati itu entah dimana, kami berempat sudah kepayahan. Namun semangat untuk pulang membuat kami terus bertahan dan berjalan melalu turunan2 yang curam dan gila. Oh untung kami naik tak lewat sini, kami bergerusukan terus di tengah malam itu, tersandung lagi, terjatuh lagi, kacamata lepas. Tidak bernafsu untuk mengobrol sama sekali, melihat ketiga temanku juga berwajah stress dan kelelahan ditambah habisnya persediaan air.

Melihat jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, sedangkan kami masih gerusukan di hutan antah berantah ini. Lalu akhirnya sampailah di pos kuburan kuda. Aku dan cery sampai duluan dan duduk sambil merenung karena tak tahu mau bilang apa. Tenggorokan kering sekali, ludah pun sampai kental sekali, badan panas dan keringat entah sudah berapa liter, juga beban di pundak yang malah semakin terasa berat.

Novan dan raden tiba, Novan datang2 langsung lepas carrier dan menjatuhkan diri di tanah dan tak bersuara, kukira pingsan, ternyata dia sudah ngorok, edan secepat itu dia bisa tidur. Ya sudah biarpun kata orang tempat ini angker, persetan saja, kami sudah sangat cape dan ingin tidur, dengan tenaga yang tersisa kami dirikan tenda. Tanpa berpikir panjang kami langsung ngorok, walau tenggorokan sangat kering dan perut yang sudah lapar meronta2. Energiku sudah defisit.





20 DESEMBER 2009

Aku terbangun duluan dan kulihat sudah jam 06.00 pagi. Aku keluar duluan dari tenda dan terasa ada energy baru. Kuhirup udara hutan yg segar, tapi tidak terlalu dingin, aku bangunkan teman2ku. Kami beres2 dan packing lagi. Tiba2 perutku terasa mules sekali. Aku cari tempat tersembunyi dan dimulailah ritual pagi di lubang di tanah yang kugali sendiri. Hehehehe persetan tempat ini angker.

Haus memang masih terasa, tenggorokan kering tiada duanya, lalu raden membuka2 isi tasnya, dia mengeluarkan tolak angin, “minum ini aja ki, lumayan kan ada airnya, hehehe” oh benar juga kata dia, kureguk itu jamu tolak angin, lumayan lah sedikit membasahi tenggorokan, duduk dulu, makan oreo yg tersisa, berdoa bersama. Dan perjalanan kami lanjutkan.

Seperti biasa aku berpasangan dengan cery di depan, Novan dan raden di belakang. Badanku memang masih lelah, tiada asupan makanan yg layak ketubuh ini sejak kemarin aku dan cery berjalan setengah berlari. Putus asa juga sih karena hutan kok tak ada habisnya seperti ini. Namun syukur track sudah tidak terlalu terjal seperti tadi malam. Tapi tetap saja masih ada sesekali turunan yg curam yang membuatku harus bergelantungan di akar gantung.

Aku berjalan sambil melihat ke sekitar. Siapa tahu ada botol air berisi yg ketinggalan, karena rasa hausku sudah bukan kepalang. Aku menemukan batang pohon yang akhirnya kujadikan walking stick saja. Hehe walking stick dari pohon singkong, hah pohon singkong? Berarti ini sudah dekat perkebunan, ini lansgsung mengisi kembali semangatku.

Track kok terasa berputar2 begini ya namun sudah tak ada lagi turunan curam sampai akhirnya kami sampai di pos Kondang Amis 1350MDPL. Ah sudah dekat cer..Novan dan Raden bahkan tak terdengar suaranya sama sekali, tapi biarlah ini tracknya jelas kok, tidak akan nyasar.

Kami percepat langkah setengah berlari, kadang beristrahat sejenak untuk membetulkan nafas. Badan sudah terasa sangat panas, tapi keringat yg keluar kok sedikit amat, kupikir cairan ditubuhku sudah sekarat. Lambat laun di depan pepohonan semakin jarang dan vegetasi semakin berubah berganti hutan pinus. Kulihat di kejauhan ada pagar-pagar kayu pembatas kebun. Ah akhirnya hutan ini telah habis.

Pundakku perih, kakiku sakit sekali, tenggorokanku sangat kering, perutku lapar tiada dua namun harus terus berjalan. Di kebun kulihat seorang bapak tua sedang berkebun, kami sapa dia dan bertanya dengan bahasa sunda, kata dia “cibunar mah 5 menit deui den, sok we terus, sakedap deui da”// nuhun pak.. padahal tadi dia menyuruh kami singgah dulu dan minum tapi kenapa kami tidak berhenti dulu ya .. aneh..

Apa yang 5 menit?? Sudah 20 menit kami berjalan ini masih saja belum kulihat rumah penduduk.. dan kira2 setengah jam baru kamu melihat rumah2 penduduk. Ah Alhamdulillah, kucari pintu2 rumah yg terbuka dengan maksud ingin minta minum, itu saja. Namun tak ada satupun yg terbuka, seperti tak berpenghuni.

Kami temukan warung, tapi kok tidak ada orang nya, kami gedor2 pintunya tak ada yg keluar, dan tiba-tiba.. ada hujan kecil turun.. tanpa berunding aku dan cery sama-sama mangap keatas, ahh lumayan segar air hujan membasahi tenggorokan tapi kok hujannya tiba2 berhenti, hanya sebentar. Ah payah..

Track semakin luas dan jelas dan berganti menjadi batuan. Jalanan terus saja menurun. Kudengar suara sungai tapi entah dimana suara itu berasal, tidak ketemu, stress aku dibuatnya. Lalu aku dengar suara motor di kejauhan, aku percepat langkahku.. jalan semakin turun, di kejauhan terlihat sekonyong2 ada sebentuk bangunan seperti warung, dan warungnya buka, kulihat di mejanya ada teko air dan makanan seperti gorengan.. Hahahaha cer aya warung cer!

Sakit di kakiku dan pedih di pundakku tak kurasakan lagi, aku dan cery berlari sekencang2nya menuju warung itu.. sampai di warung kami langsung minta izin si ibu warung tersebut untuk minum. “sok mangga mangga den ngaleueut”, kami banting saja carrier kami dan langsung berebutan air dari teko. Air satu teko besar habis oleh berdua dan itu masih kurang, kami minta lagi, dan si ibu mengambil air lagi dari dalam. Dia member kami singkong goreng yg langsung kami makan dengan lahapnya.


Kami duduk-duduk di warung itu, kulihat jam sudah jam 10.00. minum kopi, makan indomie telor dan merokok. Alhamdulillah selamat juga. Kulihat gunung Ceremai yang berdiri tegak dan si ibu cerita, bahwa kemarin2 juga ada yang datang malam2 minta minum, dia seorang wanita dan katanya sudah meminum air kencing sendiri.. wahh parah sekali, dia senasib tapi untung tak sampai minum air kencingku sendiri..

Pada jam 11.00 raden muncul sambul membawa batang kayu sebagai tongkat, katanya novan di belakang bertiga dengan yang pusing tadi malam. Ohh. Dan raden juga langsung minum dan makan dengan lahap. aku dan cery mandi duluan. Dan ketika aku buang air kecil aku kaget sekali karena kok terasa panas sekali dan air kencingnya berwana kuning sangat pekat hampis memerah, gila. Tubuhku kehabisan air sepertinya.

Di warung aku sempat sholat dzuhur dan tiduran.. rasanya damai sekali, hatiku senang dan tenang. Ibu itu baik sekali, karena memberi singkong goring dengan gratis, biji nangka rebus gratis, air putih gratis..
Oh ibu kau adalah bidadari penyelamat kami. I love you


Ibu Cibunar Bidadari Penyelamat Kami

Akhirnya pada pukul 15.00 kami berpamitan pulang dan berjanji akan kembali lagi kesini.. InsyaAllah



Terimakasih Ceremai, kau telah memberikan pelajaran dan petualangan yang sangat berharga bagi kami.




Sabtu, 08 Mei 2010

Habis Terang Terbitlah Gelap

jamnya sudah menjadi dua
terangnya sudah habis sejak tadi di angka enam
harinya pun telah menjadi minggu
photoshopnya pun telah gagal diinstallkan

ini aku didepannya ada monitor
dia selalu menatapku dengan terangnya
bersetubuh dengan cpu dan tikus elektronik juga tuts tuts yang tak bernada
mau apa aku? tak usah tahu. mau apa kamu? terserah kamu

adalah daun teh yang telah menjadi air
dia dan gula bersama dalam gelas
menjadi hangat karena api yang tadi nyala
menjadi habis karena aku yang tadi haus

aku bertanya kepada gelas
siapakah yang melukismu dengan gambar vic chow?
pastilah kau bodoh jika mengira dia akan menjawab
dan akulah yang juga bodoh karena bertanya kepada gelas

entah kenapa aku mengantuk
namun tidur itu adalah takdir
takdir yang belum kunjung menghampiriku
yang kutunggu kedatangannya

pak komar yang manis menurut dirinya sendiri
dimanakah kau berada?
tiang listrik disudut jalan rindu padamu
tak ada lagi yang memukulnya ketika malam. apa maksudmu?

wahai ibu.. kau tertidur sejak tadi
kau menyuruhku jangan tidur malam sekali
tidak ibu, aku tak tidur malam, ini dini hari
jadi tak usahlah kau kutuk aku jadi batu seperti si malin

wahai adikku.. darimana kamu selarut ini?
janganlah suka keluyuran
karena kau ini wanita, sedangkan aku lelaki
jadi biarlah aku saja yang keluyuran

duhai nenek yang berambut putih
tunggulah aku pun akan berambut putih
namun masih lama
itu adalah ketika aku dipanggil kakek oleh cucuku

kenapa mataku?
tak ada apa2
hanya saja mulai berat
menanggung beban gelap

wahai terang dunia
masamu telah habis daritadi
sekarang adalah waktunya tidur
tidur menuju gelap
habis terang terbitlah gelap


9 Mei 2010

tidak tahu mau nulis apa
ini cuma asal saja
asal ngawur

Kamis, 11 Maret 2010

Touch Of The Top of West Java (The unforgettable adventure to Ceremai Summit) PART 1







Mungkin kisah petualangan ini tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Juga teman2 saya dari Spartapani, terutama Cery Anto, Novan Angga Pratama dan Raden Dwinanto.




THE BEGINNING


Berawal dari keculunan kami ketika nongkrong diatas rumah Oki Jatmiko karena melihat gunung yang memanglah Bandung ini dikelilingi oleh barisan pegunungan yang sungguh Indah. Di utara Bandung sana ada tempat bernama Caringin Tilu. Mulailah ide Oki Jatmiko buat kita Jalan Hiking ke sana. Yang terlihat indah jika dilihat dari Antapani sini.



Maka pergilah kami ke atas caringin tilu yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan yang mengelilingi Bandung ini. Ternyata apa yang ada diatas sana tidaklah seindah yang kami lihat di bawah. Hanya kebun-kebun dan hutan cemara yang tak rapi serta jalanan aspal yang akhirnya membuat kaki kami cedera dan sangat sakit rasanya sampai2 susah untuk jongkok dan berjalan di akhir perjalanan dan juga membuat Herlan Ladiarta kapok naik gunung.




Setelah caringin tilu, hasrat kami untuk naik gunung mulailah meningkat. Kami lanjut ke Gunung Tangkuban Parahu. Dengan track melalui Jayagiri sampai puncak Tangkuban selama 6 jam karena nyasar selama 3 jam didalam belantara Jayagiri akibat ulah kami yang suka coba-coba. Saya bersama Cery Anto, Iman Kustaman, Oki Jatmiko dan Raden Dwinanto.




Lalu lanjut ke Gunung Manglayang yang kami kira mudah. Oh ternyata tidak semudah yang kami kira. Track yang kami lalui malah track yang paling sulit dan curam namun akhirnya sampai ke Puncak manglayang dengan 6 jam perjalanan dari Cipadung. Pendakian pertama ke manglayang ini saya bersama Cery Anto, Raden Dwinanto, Ady Wijaya, Adhitya Wijaya dan Novan Angga Pratama.




Kami ketagihan ke Manglayang maka kami putuskan kesana lagi dengan rute berbeda yakni lewat BatuKuda. Pendakian kedua ke Manglayang ini Saya Bersama dengan Cery Anto, Novan Angga Pratama, Angga Firmansyah, Oki Jatmiko, Adhitya Wijaya dan Iman Kustaman. Disana kami nyasar karena coba-coba. Akhirnya kami berjam-jam di hutan sampai menemukan jalan buntu, ada yang panik ada yang tenang-tenang saja. Akhirnya saya putuskan untuk membuka jalan melalui semak2 berduri sehingga melukai wajah dan tubuh kami. Memanjat batuan2 besar dan terjal juga celah-celah sempit dengan nekatnya. Lalu sampailah di puncak 1 (tempat datar pertama di Manglayang). Dan kami ternyata memanjat di sisi jurang. Oh bayangkan. Lalu kami makan dan sholat ashar lalu kembali ke bawah karena sudah terlalu sore jika dilanjut ke puncak.





MOUNTAIN ADDICT


Mulailah kami merasa benar-benar ketagihan naik gunung. Mencari-cari gunung yang Indah lewat Internet. Akhirnya kami temukan gunung Gede-Pangrango yang sangatlah indah dengan taman Surya Kencana yang dipenuhi oleh bunga Eidelweiss. Kami rencanakan buat naik kesana di akhir tahun 2009. Setelah cari-cari data ternyata ada aturan baru yang mengharuskan setiap pendaki menyewa Guide seharga 400 ribu (WAJIB). Oh my god kami jadi bingung, sedangkan uang yang kami siapkan untuk beli perlengkapan juga belum cukup.



Musyawarah, obrol2, debat sana-sini. Cery Anto memberi ide bagaimana kalau Gunung Ceremai, Gunung TERTINGGI DI JAWA BARAT COY!! Yang langsung agak menggentarkan nyali kami yang pemula ini. Apa?? Kami search di Google yang muncul malah kisah2 mistik, korban meninggal, nyasar dan hilang, diseruduk babi hutan, ada macan tutul dan macan kumbangnya, susah air lah, minum air kencing sendiri lah, melihat penampakan lah. Oh gila. Teman-teman banyak yang mundur. Tinggalah Saya, Cery Anto, Novan Angga Pratama, Raden Dwinanto, Adhitya Wijaya dan Iman Kustaman yang bersedia ikut kesana. Dengan alasan kapan lagi kita kesana, tak usah takut dengan cerita begituan toh justru lebih banyak yang selamat daripada yang tidak. Iya sih. Dan daripada buat bayar Guide ke Gunung gede-pangrango mending kami belikan tenda. Diputuskanlah Hari Pendakian adalah 18 Desember 2009, Hari Jumat yang libur entah libur apa saya lupa.



Persiapan fisik, lari pagi, persiapan alat beli carrier beli macam2, beli tenda dan sebagainya sampai minggu keberangkatan tiba. Ternyata Adhitya Wijaya mengundurkan diri karena Ujian di Kampusnya, tinggallah kami berlima.





TANPA IMAN KUSTAMAN


17 Desember 2009 semua sudah siap. Saya dan Iman kerja satu kantor sudah antusias dari pagi hari. Namun sore harinya ketika sepulang kerja dengan semangat yang memuncak, Iman member kabar yang tidak enak bagi kami, dia mengundurkan diri karena harus masuk kerja pada hari sabtu perintah Atasannya si Om Boy. Alamak tinggal berempat.



Langsunglah saya meluncur ke rumah Novan dengan kabar buruk itu. Gimana ini, Cery lalu ke rumah Iman buat membujuk walau akhirnya gagal.



Ya sudahlah. Toh di aturan Taman Nasional Gunung Ceremai batas minimal pendakian adalah 3 orang kan kita berempat jadi masih bisa. Maka berangkatlah kami!!



Saya pulang ke rumah dan sudah ada RAden yang tidur di kamar saya, kami siap2. Cery sudah siap, Novan juga. Janjian di jembatan Cikajang. Saya dan raden mengangkat itu Carrier, saya pinjam Carrier dari Ipung teman kantor saya. Oh beratnya bukan main, ini saya mau kemana bawa beban seberat ini mungkin 30KG ada itu isi Carrier. Saya dan Raden jalan ke jembatan dengan terengah-engah dan disana sudah ada Novan diantar oleh adiknya Egi yang tadinya mau ikut juga. Setelah kumpul berangkatlah kami ke Cicaheum dengan Ojek yang hampir Standing karena beratnya beban di belakang.


Naiklah kami bis yang ke Tegal pada pukul 20.00 dengan rencana turun di Cirebon dan lanjut ke Kuningan untuk menginap dulu di Rumah Ibu Ubeh yaitu teman Ibu saya yang baik sekali mau menyediakan tempat untuk bermalam.

Berjam2 terangin2 dalam bus karena kenek sial itu terus membuka pintu Bus menyebabkan kami serasa naik motor saja. Akhirnya sampai terminal Cirebon, turun disana dengan perasaan yang semakin tidak PEDE karena beban dipundak begitu beratnya. Lalu naik angkot sampai Kuningan ke rumah Ibu Ubeh yang kebetulan di pinggir jalan protocol sehingga tidak susah ditemukan.



Kami ikut tidur disana dengan perasaan canggung karena tidak enak bertamu jam 2 malam. Hehehe walau akhirnya tidur nyenyak.





D DAY


18 Desember 2009 bangun pagi2 jam 07.00. tidak sarapan karena malu sudah terlalu merepotkan Ibu Ubeh. Bersalaman dan meminta doa restu Ibu Ubeh, sambil menanyakan rute ke Palutungan. Dan pamitan.

Sampai di Palutungan, cari sarapan ternyata ada warung nasi. Ah ada juga warung nasi disini. Kami putuskan lewat Palutungan karena jalur ini katanya lebih mudah dari Jalur pendakian utama ke Gunung Ceremai yaitu Jalur Linggarjati yang terkenal terjal dan Curam. Sebenarnya buat jaga-jaga saja sih karena kami ini pemula jadi takut tidak sanggup melewatinya.

Sarapan dengan telur matasapi dan nasi beserta kecap dan bawang goreng, sementara Cery dan Raden sudah selesai duluan jadi mereka melakukan pendaftaran di Pos Palutungan itu. Selesai makan kami pesan lagi masing-masing satu bungkus nasi dan telur matasapi buat makan siang nanti. Sambil Sms2 ke Ibu, keluarga atau Pacar buat pamit dan mohon doanya untuk mendaki GUNUNG TERTINGGI DI JAWA BARAT.




THE JOURNEY IS BEGIN


Novan, Yocki, Cery, Raden
bisa diklik loh kalau mau liat facebook kita

POS PENDAKIAN PALUTUNGAN

Sekitar pukul 10.00 Baru saja beberapa meter dari pos pendakian Palutungan, hutan pun belum, perkebunan penduduk pun belum, tapi kami sudah putus asa. Beban di pundak terasa berat sekali. Aduh ini sampai gak ya ke Puncak, sedangkan ke Puncak itu jauhnya 9KM jika jalanan datar dan lurus. Sampai perkebunan penduduk dan mulai menanjak, rasa sakit dipundak semakin menggila karena Carrier saya dan punya Cery tidak sebagus Carrier punya Raden dan Novan yang baru beli di Eiger itu. Saya dan Cery putuskan untuk mengeluarkan Jerigen air 5liter dari dalam Carrier dan kemudian menentengnya. Nekat! Kupikir. Nanti kita pegangan pakai apa kalau tangan ini menanggung beban juga, ah KUMAHA ENGKE!



Stress beban ternyata berat sekali

Mau memasuki hutan, jalan mulai menanjak, jalan setapak dikelilingi pohon pisang dan lainnya yang semakin sana semakin berkurang berganti pohon2 khas hutan tropis. Istirahat beberapa kali karena memang terasa berat. Sambil minum dan merokok. Gila sempat2nya merokok.


Istirahat di hutan


Masuk hutan udara mulai berbeda, tiupan angin mulai dingin. Kami putuskan untuk beristirahat lagi. Keringat bercucuran membasahi seluruh pelosok tubuh namun tubuh mulai beradaptasi dengan beratnya beban ini. Bertemu dengan beberapa pendaki yang turun gunung. Terasa bagai suntikan semangat bagi kami karena bertemu dengan sesama pendaki.


Sambil berjalan terengah-engah, suara adzan di kejauhan dan suara kendaraan semakin tidak terdengar. Semakin jauh memasuki kedalaman belantara. Pikiran was-was akan adanya macan dan babi hutan yang memang masih banyak populasinya. Sambil melihat2 peta dan berencana akan beristirahat di Pos Pertama (Pos berarti tempat datar di gunung) Pos Cigowong, Hey Cery Novan! Cigowong!! Bukan Rancagowong atau PAgowongan! Hahaha.


Kira-kira pukul 15.00 kami sampai Cigowong yang ternyata memang tempat terbuka yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda dan bermain futsal. Kami bentangkan terpal untuk alas dan kemudian merebahkan diri. Badan basah oleh keringat sampai mataku pun pedih, kacamata berembun, jam tangan berembun. Handphone juga apalagi sudah tidak ada sinyal sejak di Palutungan jadi saja dimatikan. Membuka nasi bungkus tadi, makan dengan lahapnya. Oh nikmatnya makan siang ini pasti karena lapar.

Makan siang di Cigowong


Terdengar suara air mengalir, saya dan cery bergegas menuju ke arah suara air tersebut dan memang ternyata ada sungai mengalir, kami main air disana dengan Novan, main ciprat2an seperti gay. Minum airnya, lalu wudhu dan kemudian sholat Ashar.


Mata air di Cigowong


Badan seperti terisi energi baru. Di Cigowong ini lah semangat kami mulai terbakar, ingin segera sampai ke puncak. Badan sudah beradaptai dengan beban di pundak. Sudah terasa biasa seperti menyatu dengan tubuh ini. Sambil melihat peta. Sampailah di Pos kedua yaitu pos Kuta di ketinggian 1575 Meter diatas permukaan laut (MDPL).


POS KUTA


Berjalan terus, berputar, menanjak, terdengar suara-suara aneh, seperti suara apa itu monyet atau apa entahlah tidak kami ambil pusing, bahkan jika bertemu macan pun kami sudah kepalang tanggung, kami pikir akan kami tebas saja leher macan itu buat makan malam (saking semangatnya, ga tau sih kalau ketemu). Sementara hari semakin gelap, kami berencana membuka tenda di Pos Pasanggrahan. Sampai Pos Pangguyangan Badak kami istirahat dulu, dipikir-pikir kami banyak istirahatnya ya, biarlah namanya juga pemula. Tanpa pemandu, bermodal nekad dan pengetahuan lewat internet. Itulah kami SPARTAPANI!.




POS PANGGUYANGAN BADAK 1800 METER DI ATAS PERMUKAAN LAUT




Hari semakin gelap, lihat jam sudah lebih dari pukul 18.00, sementara pos Tanjakan Asoy pun belum kami lewati, karena pos Pasanggrahan yang rencananya kami akan kemping disitu, haruslah lewat dulu pos Tanjakan Asoy.


Pukul 19.00 hari sudah benar-benar gelap, senter sudah dinyalakan. Sampailah pada pos Tanjakan Asoy 2200MDPL. Agak panik juga sih apalagi ditambah suara petir dan melihat cahayanya yang jaraknya memang dekat sekali.wow menakjubkan. Seperti mau hujan, kami putuskan untuk buka tenda di Tanjakan Asoy (2200MDPL) lebih tinggi dibanding puncak Manglayang. Cery berusaha menyalakan api yang susah sekali nyala karena angin bertiup kencang sekali. Saya, Novan dan Raden mendirikan tenda dalam keadaan gelap. Sulit sekali memang hanya diterangi senter yang redup, yang harus dihemat-hemat. Dan akhirnya tenda pun berdiri, api pun menyala.


Saya dan Consina



Kami berganti baju untuk tidur, lalu memasak mie instan, mengobrol. Dan HEY! Ternyata udaranya dingin sekali. Gila! Kopi yang baru saja diseduh dengan air mendidih, ditinggal sebentar ngobrol eh sudah dingin sekali, jadi ingat ciwidey. Saya lihat Cery lagi sholat, Raden sudah tidur dan ngorok duluan, saya dan novan ngopi dan merokok di tengah belantara Ciremai. Sensasinya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Telinga dan mata semakin malam semakin sensitive terhadap pergerakan di sekitar kami. Jangan-jangan macan tutul atau apalah, sini sudah siap golok tebas punya si cery! Hehehe, kencing-kencing sembarangan tak peduli pada aturan2 dan larangan mistik, persetan dengan penghuni makhluk halus atau apapun, kami manusia! Takut cuma sama ALLAH!




Novan Angga Pratama



Masuk tenda sekitar setengah Sembilan malam. Ngobrol-ngobrol. Cery dan Raden sudah ngorok duluan, tinggal Saya dan Novan yang selalu bertanya naon eta naon eta kalau ada suara yang aneh diluar tenda. Ada ranting jatuh ke atas tenda dengan sangat kencang membuat lampu gantung padam dan terjatuh. Sontak kami kaget. Cuma saya dan novan yang sadar, ada suara seperti yang berjalan diluar tenda. “asa aneh nya jam sakieu, di tengah leuweung jauh timamana asa ngimpi! Hahahaha!” dan kami pun tertidur




DALAM TENDA




THE SECOND DAY IN THE JUNGLE


Saya bangun duluan. Dan HEY sudah jam enam pagi, rencananya kami bangun sebelum terang dan mendaki ah gagal. “taribra teuing atuh sarena ah”. Saya bangunkan anak-anak, saya dan Cery bergegeas keluar tenda, udara masih dingin sekali, banyak kabut. Dan memulai menyalakan api untuk memasak sarapan kami. Tapi Novan dan Raden masih saja ngorok. Hahaha



CERY ANTO



Selesai sarapan Lagi-lagi mie Instan dan segelas kopi panas di ketinggian 1800MDPL. Kami bergegas membereskan semuanya dan memulai kembali pedakian. Foto foto lagi, foto foto lagi, tiap pos foto-foto. Karena itulah kami, para banci foto dari bandung Timur. Hahaha






Mulai berjalan dan langsung Menanjak karena memang namanya Tanjakan Asoy. Perlu dicatat! Ternyata Tanjakan Asoy itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan tanjakan-tanjakan di Manglayang yang terjal dan curam, apalagi waktu kita nyasar di tepi jurang.




Di perjalanan ketika ada jalur yang membingungkan, jalanan menanjak semakin melejit, kami lempar dulu Carrier kami masing-masing ke atas lalu kami baru memanjat. Tiba-tiba tali dari tas Cery PUTUS!. Ow.. kami agak panik, Cery terlihat berusaha tenang. Bagaimana bisa melanjutkan perjalanan dengan menggendong tas putus. Namun untung saja kita bawa tambang, dengan tambang itu Cery talikan lagi bagian tali tasnya yang putus. Setelah yakin akan kuat dengan beban seberat itu, mencoba menggerak-gerakan. Dan memanglah kuat baru kami lanjutkan lagi pendakian.






Tiba di Pos Pasanggrahan 2450MDPL jam menunjukkan pukul 09.20 pagi. Istirahat sejenak. Foto foto lagi hai para model! Makan oreo, minum madu, merokok sebatang. Ngobrol-ngobrol dan bercanda-canda, bertemu denga pendaki lain yang turun, mereka masih muda-muda mungkin anak-anak SMA. Menyapa kami dengan ramah. “jam berapa dari puncak de?” tanya kami. “sekitar jam 8 pagi a’”. oh semangat semakin membara, puncak sudah dekat. Kami langsung lanjutkan lagi pendakian.




Hari semakin siang, matahari semakin terasa dekat dan menyengat kulit walaupun angin berhembus semain kencang. Fisik sudah mulai kepayahan. Karena track semakin menanjak, karena begitulah gunung, semakin ke pincak semakin menanjak. Jalur terdiri dari bongkahan-bongkahan batu yang terpecah-pecah membuat susah untuk memilih pijakan. Istirahat, foto-foto. Jalan lagi.




Di Pos Sanghyang Popoh Kami sadar fisik kami sudah lemah namun entah mengapa keinginan untuk mencapai puncak itu mengalahkan segalanya, puncak Cery yang terluka karena tali Carrier yang buruk itu, pundakku juga terasa terbakar. Cery berjalan didepan masih menenteng jerigen seperti juga saya. Raden dan Novan kami tinggal di belakang maaf.Den, Van, lambreta sih kalian,, hehehe.





Raden Dwinanto




Saya dan Cery sampai di sebuah persimpangan Apuy dan Palutungan. Apuy adalah jalur lain ke puncak Ciremai yaitu dari arah kota Majalengka. Kami duduk disitu, foto-foto sambil menunggu Novan dan Raden yang jauh dibawah. Jalanan semakin terjal dan berbatu, berbahaya sekali ini kupikir. Lalu tak sengaja saya menginjak sebuah prasasti atau nisan yang menandakan beberapa tahun yang lalu ada seorang anak muda yang meninggal disitu. Oh jadi ngeri juga. Tapi biarlah kami tak ambil pusing.




Persimpangan Jalur Apuy dan Palutungan




Karena disitulah baru kami sadar, kami sudah ada diatas awan!!! Sungguh Indah tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Langit biru membentang luas, hanya biru sejauh mata memandang, tampak gunung di kejauhan mungkin Gunung Slamet yang berdiri gagah.. awan-awan berpautan seperti kapas, menggumpal-gumpal. Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya Allah. Aku merasa aku sangatlah kecil. Tak berarti apa2 dibandingkan dengan kebesaranMu. Tak pikir panjang, foto-foto terussssss.


Awan dibawah kami





GUA WALET


Senangnya hatiku melihat gua wallet di kejauhan, itu berarti tinggal 100 meter lagi pendakian, yang memang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan 100 meter di jalan datar. Kami putuskan untuk istirahat dulu disitu, tapi Novan tak mau turun ke Gua Walet dengan alasan jauh dan untuk menghemat energi, padahal saya sudah turun dibawah. Tapi ya sudah akhirnya kami makan disitu. Diatas Gua Walet. Dengan sinar matahari yang sangat menyengat membakar kulit dan membuat kulit semakin menghitam. Di kejauhan terlihat mendekat 4 orang yang turun dari puncak. Dan kami pun ngobrol, mereka dari bekasi katanya, dan kami bersalam-salaman dan mereka melanjutkan turun. Bertemu lagi dengan manusia, membangkitkan lagi semangat kami






SUMMIT ATTACK


Selesai makan dengan sarden kalengan. Kami mulai lagi pendakian. Kali ini Summit Attack. Track benar-benar semakin curam. Kalaulah tak berhati-hati kita bisa terjatuh dan fatal sekali akibatnya. Beban dipundak semakin terasa berat, serasa menarik tubuh ini kebelakang dan bisa mengakibatkan jatuh. Tapi oh jangan sampai aku jatuh disini, aku ingat Ibu dan Pacar saya jadi semangat lagi deh.


Cery saya persilahkan untuk mendaki duluan, sedangkan saya dibelakangnya menunggu Raden dan novan yang terasa lama sekali sampainya, saya panggil mereka sesekali untuk memastikan bahwa mereka masih bertahan dan jaraknya dekat. Saya lihat keatas, Cery sudah jauh sekali, saya lihat kebawah, Raden dan Novan belum juga Nampak. Setelah mereka tampak saya putuskan untuk kembali bergegas karena hari sudah semakin sore, sambil sesekali melihat ke arah bawah yang membentang luas, langit seakan tiada berujung. Ah silakan saja liat fotonya, indah sekali ya Allah.

Cery sudah jauh diatas, jalanan sangat terjal



Track semakin sulit, tanaman eidelweiss sudah habis, tak ada lagi tumbuhan hidup,berarti sudah dekat dengan kawah ini. Saya lihat kebawah ada Raden tanpa Novan, saya teriak-teriak “CERY!! CERY!!” terus2an tapi dia tidak menjawab, bikin saya panik. Ah kemana dia. Sialan!.. saya terus mendaki dan mendaki langkah demi langkah, semakin terjal dan berbatu, kemiringan semakin parah.




Hati berdegup kencang, saya lihat ke arah puncak, itu seperti ujung. Tapi berpikir lagi apakah kali ini benar2 puncak karena dari bawah pun puncak sudah terlihat dekat padahal tidak. Namun kali ini lain rasanya, angin bertiup semakin kencang, menderu, kaki terus melangkah keatas berpijak sekenanya, tangan meraih tembok gunung yang bisa dipegang, dan akhirnya pegangan ini terasa lain. Saya angkat tubuh saya dengan sekuat tenaga. Ternyata ini mulut kawah. Subhanallah. Rasa sakit di pindak dan di kaki pin kontan hilang. Peresaan bercampuraduk tak karuan.




Saya teriak-teriak. Raden!! Novan!!. Puncak oy!! Puncak!!, saya terharu sekali sampai menitikkan air mata.. akhirnya. Perjuangan berat ini mengantarkan kami ke PUNCAK TERTINGGI JAWA BARAT. Huuuu!!! HUUUU!!! Saya teriak teriak kegirangan, saya lihat Cery yang sedang Sholat dikejauhan! SAya lari ke arah Cery. Duduk dan melamun. Terharu. Saya lihat Raden sedang berjalan menuju kami. Menunggu-nunggu novan sambil meneriakkan namanya dan ternyata dia juga sudah ada masih mendaki.


PUNCAK CEREMAI


Kami berkumpul diatas sana. Di Puncak Ceremai. Di sore itu. 3058MDPL. Diatas awan. Diatas Jawa Barat. Bersenda gurau. Berfoto-foto. Menghabiskan waktu sampai puas. Soalnya kapan lagi kami bisa kesini. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Langit di sekeliling kami beserta burung elang yang sejak tadi terbang mengelilingi kami. Gumpalan-gumpalan awan yang selalu membuat saya takjub. Ingin rasanya menangis bahagia, ingat keluarga di rumah, ingat pacar saya, ingat teman-teman Spartapani. Ingat Iman Kustaman.

Karena kalianlah semangat yang sejati bagi kami..







SPARTAPANI DI PUNCAK TERTINGGI JAWA BARAT









Pukul 16.00 di atap Jawa Barat.

Suara petir menggelegar, awan dibawah terlihat menghitam dan bercahaya berbarengan dengan suara petir.

Masih Tak tahu apa yang menanti kami di perjalanan turun LINGGARJATI.





BERSAMBUNG


LANJUTIN JANGAN??