
Mungkin kisah petualangan ini tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Juga teman2 saya dari Spartapani, terutama Cery Anto, Novan Angga Pratama dan Raden Dwinanto.
THE BEGINNING
Berawal dari keculunan kami ketika nongkrong diatas rumah Oki Jatmiko karena melihat gunung yang memanglah Bandung ini dikelilingi oleh barisan pegunungan yang sungguh Indah. Di utara Bandung sana ada tempat bernama Caringin Tilu. Mulailah ide Oki Jatmiko buat kita Jalan Hiking ke sana. Yang terlihat indah jika dilihat dari Antapani sini.
Maka pergilah kami ke atas caringin tilu yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan yang mengelilingi Bandung ini. Ternyata apa yang ada diatas sana tidaklah seindah yang kami lihat di bawah. Hanya kebun-kebun dan hutan cemara yang tak rapi serta jalanan aspal yang akhirnya membuat kaki kami cedera dan sangat sakit rasanya sampai2 susah untuk jongkok dan berjalan di akhir perjalanan dan juga membuat Herlan Ladiarta kapok naik gunung.
Setelah caringin tilu, hasrat kami untuk naik gunung mulailah meningkat. Kami lanjut ke Gunung Tangkuban Parahu. Dengan track melalui Jayagiri sampai puncak Tangkuban selama 6 jam karena nyasar selama 3 jam didalam belantara Jayagiri akibat ulah kami yang suka coba-coba. Saya bersama Cery Anto, Iman Kustaman, Oki Jatmiko dan Raden Dwinanto.
Lalu lanjut ke Gunung Manglayang yang kami kira mudah. Oh ternyata tidak semudah yang kami kira. Track yang kami lalui malah track yang paling sulit dan curam namun akhirnya sampai ke Puncak manglayang dengan 6 jam perjalanan dari Cipadung. Pendakian pertama ke manglayang ini saya bersama Cery Anto, Raden Dwinanto, Ady Wijaya, Adhitya Wijaya dan Novan Angga Pratama.
Kami ketagihan ke Manglayang maka kami putuskan kesana lagi dengan rute berbeda yakni lewat BatuKuda. Pendakian kedua ke Manglayang ini Saya Bersama dengan Cery Anto, Novan Angga Pratama, Angga Firmansyah, Oki Jatmiko, Adhitya Wijaya dan Iman Kustaman. Disana kami nyasar karena coba-coba. Akhirnya kami berjam-jam di hutan sampai menemukan jalan buntu, ada yang panik ada yang tenang-tenang saja. Akhirnya saya putuskan untuk membuka jalan melalui semak2 berduri sehingga melukai wajah dan tubuh kami. Memanjat batuan2 besar dan terjal juga celah-celah sempit dengan nekatnya. Lalu sampailah di puncak 1 (tempat datar pertama di Manglayang). Dan kami ternyata memanjat di sisi jurang. Oh bayangkan. Lalu kami makan dan sholat ashar lalu kembali ke bawah karena sudah terlalu sore jika dilanjut ke puncak.
MOUNTAIN ADDICT
Mulailah kami merasa benar-benar ketagihan naik gunung. Mencari-cari gunung yang Indah lewat Internet. Akhirnya kami temukan gunung Gede-Pangrango yang sangatlah indah dengan taman Surya Kencana yang dipenuhi oleh bunga Eidelweiss. Kami rencanakan buat naik kesana di akhir tahun 2009. Setelah cari-cari data ternyata ada aturan baru yang mengharuskan setiap pendaki menyewa Guide seharga 400 ribu (WAJIB). Oh my god kami jadi bingung, sedangkan uang yang kami siapkan untuk beli perlengkapan juga belum cukup.
Musyawarah, obrol2, debat sana-sini. Cery Anto memberi ide bagaimana kalau Gunung Ceremai, Gunung TERTINGGI DI JAWA BARAT COY!! Yang langsung agak menggentarkan nyali kami yang pemula ini. Apa?? Kami search di Google yang muncul malah kisah2 mistik, korban meninggal, nyasar dan hilang, diseruduk babi hutan, ada macan tutul dan macan kumbangnya, susah air lah, minum air kencing sendiri lah, melihat penampakan lah. Oh gila. Teman-teman banyak yang mundur. Tinggalah Saya, Cery Anto, Novan Angga Pratama, Raden Dwinanto, Adhitya Wijaya dan Iman Kustaman yang bersedia ikut kesana. Dengan alasan kapan lagi kita kesana, tak usah takut dengan cerita begituan toh justru lebih banyak yang selamat daripada yang tidak. Iya sih. Dan daripada buat bayar Guide ke Gunung gede-pangrango mending kami belikan tenda. Diputuskanlah Hari Pendakian adalah 18 Desember 2009, Hari Jumat yang libur entah libur apa saya lupa.
Persiapan fisik, lari pagi, persiapan alat beli carrier beli macam2, beli tenda dan sebagainya sampai minggu keberangkatan tiba. Ternyata Adhitya Wijaya mengundurkan diri karena Ujian di Kampusnya, tinggallah kami berlima.
TANPA IMAN KUSTAMAN
17 Desember 2009 semua sudah siap. Saya dan Iman kerja satu kantor sudah antusias dari pagi hari. Namun sore harinya ketika sepulang kerja dengan semangat yang memuncak, Iman member kabar yang tidak enak bagi kami, dia mengundurkan diri karena harus masuk kerja pada hari sabtu perintah Atasannya si Om Boy. Alamak tinggal berempat.
Langsunglah saya meluncur ke rumah Novan dengan kabar buruk itu. Gimana ini, Cery lalu ke rumah Iman buat membujuk walau akhirnya gagal.
Ya sudahlah. Toh di aturan Taman Nasional Gunung Ceremai batas minimal pendakian adalah 3 orang kan kita berempat jadi masih bisa. Maka berangkatlah kami!!
Saya pulang ke rumah dan sudah ada RAden yang tidur di kamar saya, kami siap2. Cery sudah siap, Novan juga. Janjian di jembatan Cikajang. Saya dan raden mengangkat itu Carrier, saya pinjam Carrier dari Ipung teman kantor saya. Oh beratnya bukan main, ini saya mau kemana bawa beban seberat ini mungkin 30KG ada itu isi Carrier. Saya dan Raden jalan ke jembatan dengan terengah-engah dan disana sudah ada Novan diantar oleh adiknya Egi yang tadinya mau ikut juga. Setelah kumpul berangkatlah kami ke Cicaheum dengan Ojek yang hampir Standing karena beratnya beban di belakang.
Naiklah kami bis yang ke Tegal pada pukul 20.00 dengan rencana turun di Cirebon dan lanjut ke Kuningan untuk menginap dulu di Rumah Ibu Ubeh yaitu teman Ibu saya yang baik sekali mau menyediakan tempat untuk bermalam.
Berjam2 terangin2 dalam bus karena kenek sial itu terus membuka pintu Bus menyebabkan kami serasa naik motor saja. Akhirnya sampai terminal Cirebon, turun disana dengan perasaan yang semakin tidak PEDE karena beban dipundak begitu beratnya. Lalu naik angkot sampai Kuningan ke rumah Ibu Ubeh yang kebetulan di pinggir jalan protocol sehingga tidak susah ditemukan.
Kami ikut tidur disana dengan perasaan canggung karena tidak enak bertamu jam 2 malam. Hehehe walau akhirnya tidur nyenyak.
D DAY
18 Desember 2009 bangun pagi2 jam 07.00. tidak sarapan karena malu sudah terlalu merepotkan Ibu Ubeh. Bersalaman dan meminta doa restu Ibu Ubeh, sambil menanyakan rute ke Palutungan. Dan pamitan.
Sampai di Palutungan, cari sarapan ternyata ada warung nasi. Ah ada juga warung nasi disini. Kami putuskan lewat Palutungan karena jalur ini katanya lebih mudah dari Jalur pendakian utama ke Gunung Ceremai yaitu Jalur Linggarjati yang terkenal terjal dan Curam. Sebenarnya buat jaga-jaga saja sih karena kami ini pemula jadi takut tidak sanggup melewatinya.
Sarapan dengan telur matasapi dan nasi beserta kecap dan bawang goreng, sementara Cery dan Raden sudah selesai duluan jadi mereka melakukan pendaftaran di Pos Palutungan itu. Selesai makan kami pesan lagi masing-masing satu bungkus nasi dan telur matasapi buat makan siang nanti. Sambil Sms2 ke Ibu, keluarga atau Pacar buat pamit dan mohon doanya untuk mendaki GUNUNG TERTINGGI DI JAWA BARAT.
THE JOURNEY IS BEGIN
Sekitar pukul 10.00 Baru saja beberapa meter dari pos pendakian Palutungan, hutan pun belum, perkebunan penduduk pun belum, tapi kami sudah putus asa. Beban di pundak terasa berat sekali. Aduh ini sampai gak ya ke Puncak, sedangkan ke Puncak itu jauhnya 9KM jika jalanan datar dan lurus. Sampai perkebunan penduduk dan mulai menanjak, rasa sakit dipundak semakin menggila karena Carrier saya dan punya Cery tidak sebagus Carrier punya Raden dan Novan yang baru beli di Eiger itu. Saya dan Cery putuskan untuk mengeluarkan Jerigen air 5liter dari dalam Carrier dan kemudian menentengnya. Nekat! Kupikir. Nanti kita pegangan pakai apa kalau tangan ini menanggung beban juga, ah KUMAHA ENGKE!
Mau memasuki hutan, jalan mulai menanjak, jalan setapak dikelilingi pohon pisang dan lainnya yang semakin sana semakin berkurang berganti pohon2 khas hutan tropis. Istirahat beberapa kali karena memang terasa berat. Sambil minum dan merokok. Gila sempat2nya merokok.
Istirahat di hutan
Masuk hutan udara mulai berbeda, tiupan angin mulai dingin. Kami putuskan untuk beristirahat lagi. Keringat bercucuran membasahi seluruh pelosok tubuh namun tubuh mulai beradaptasi dengan beratnya beban ini. Bertemu dengan beberapa pendaki yang turun gunung. Terasa bagai suntikan semangat bagi kami karena bertemu dengan sesama pendaki.
Kira-kira pukul 15.00 kami sampai Cigowong yang ternyata memang tempat terbuka yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda dan bermain futsal. Kami bentangkan terpal untuk alas dan kemudian merebahkan diri. Badan basah oleh keringat sampai mataku pun pedih, kacamata berembun, jam tangan berembun. Handphone juga apalagi sudah tidak ada sinyal sejak di Palutungan jadi saja dimatikan. Membuka nasi bungkus tadi, makan dengan lahapnya. Oh nikmatnya makan siang ini pasti karena lapar.
Terdengar suara air mengalir, saya dan cery bergegas menuju ke arah suara air tersebut dan memang ternyata ada sungai mengalir, kami main air disana dengan Novan, main ciprat2an seperti gay. Minum airnya, lalu wudhu dan kemudian sholat Ashar.
Mata air di Cigowong
Badan seperti terisi energi baru. Di Cigowong ini lah semangat kami mulai terbakar, ingin segera sampai ke puncak. Badan sudah beradaptai dengan beban di pundak. Sudah terasa biasa seperti menyatu dengan tubuh ini. Sambil melihat peta. Sampailah di Pos kedua yaitu pos Kuta di ketinggian 1575 Meter diatas permukaan laut (MDPL).
POS KUTA
Berjalan terus, berputar, menanjak, terdengar suara-suara aneh, seperti suara apa itu monyet atau apa entahlah tidak kami ambil pusing, bahkan jika bertemu macan pun kami sudah kepalang tanggung, kami pikir akan kami tebas saja leher macan itu buat makan malam (saking semangatnya, ga tau sih kalau ketemu). Sementara hari semakin gelap, kami berencana membuka tenda di Pos Pasanggrahan. Sampai Pos Pangguyangan Badak kami istirahat dulu, dipikir-pikir kami banyak istirahatnya ya, biarlah namanya juga pemula. Tanpa pemandu, bermodal nekad dan pengetahuan lewat internet. Itulah kami SPARTAPANI!.
POS PANGGUYANGAN BADAK 1800 METER DI ATAS PERMUKAAN LAUT
Hari semakin gelap, lihat jam sudah lebih dari pukul 18.00, sementara pos Tanjakan Asoy pun belum kami lewati, karena pos Pasanggrahan yang rencananya kami akan kemping disitu, haruslah lewat dulu pos Tanjakan Asoy.
Kami berganti baju untuk tidur, lalu memasak mie instan, mengobrol. Dan HEY! Ternyata udaranya dingin sekali. Gila! Kopi yang baru saja diseduh dengan air mendidih, ditinggal sebentar ngobrol eh sudah dingin sekali, jadi ingat ciwidey. Saya lihat Cery lagi sholat, Raden sudah tidur dan ngorok duluan, saya dan novan ngopi dan merokok di tengah belantara Ciremai. Sensasinya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Telinga dan mata semakin malam semakin sensitive terhadap pergerakan di sekitar kami. Jangan-jangan macan tutul atau apalah, sini sudah siap golok tebas punya si cery! Hehehe, kencing-kencing sembarangan tak peduli pada aturan2 dan larangan mistik, persetan dengan penghuni makhluk halus atau apapun, kami manusia! Takut cuma sama ALLAH!
Masuk tenda sekitar setengah Sembilan malam. Ngobrol-ngobrol. Cery dan Raden sudah ngorok duluan, tinggal Saya dan Novan yang selalu bertanya naon eta naon eta kalau ada suara yang aneh diluar tenda. Ada ranting jatuh ke atas tenda dengan sangat kencang membuat lampu gantung padam dan terjatuh. Sontak kami kaget. Cuma saya dan novan yang sadar, ada suara seperti yang berjalan diluar tenda. “asa aneh nya jam sakieu, di tengah leuweung jauh timamana asa ngimpi! Hahahaha!” dan kami pun tertidur
DALAM TENDA
THE SECOND DAY IN THE JUNGLE
Saya bangun duluan. Dan HEY sudah jam enam pagi, rencananya kami bangun sebelum terang dan mendaki ah gagal. “taribra teuing atuh sarena ah”. Saya bangunkan anak-anak, saya dan Cery bergegeas keluar tenda, udara masih dingin sekali, banyak kabut. Dan memulai menyalakan api untuk memasak sarapan kami. Tapi Novan dan Raden masih saja ngorok. Hahaha
Selesai sarapan Lagi-lagi mie Instan dan segelas kopi panas di ketinggian 1800MDPL. Kami bergegas membereskan semuanya dan memulai kembali pedakian. Foto foto lagi, foto foto lagi, tiap pos foto-foto. Karena itulah kami, para banci foto dari bandung Timur. Hahaha
Mulai berjalan dan langsung Menanjak karena memang namanya Tanjakan Asoy. Perlu dicatat! Ternyata Tanjakan Asoy itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan tanjakan-tanjakan di Manglayang yang terjal dan curam, apalagi waktu kita nyasar di tepi jurang.
Tiba di Pos Pasanggrahan 2450MDPL jam menunjukkan pukul 09.20 pagi. Istirahat sejenak. Foto foto lagi hai para model! Makan oreo, minum madu, merokok sebatang. Ngobrol-ngobrol dan bercanda-canda, bertemu denga pendaki lain yang turun, mereka masih muda-muda mungkin anak-anak SMA. Menyapa kami dengan ramah. “jam berapa dari puncak de?” tanya kami. “sekitar jam 8 pagi a’”. oh semangat semakin membara, puncak sudah dekat. Kami langsung lanjutkan lagi pendakian.
Hari semakin siang, matahari semakin terasa dekat dan menyengat kulit walaupun angin berhembus semain kencang. Fisik sudah mulai kepayahan. Karena track semakin menanjak, karena begitulah gunung, semakin ke pincak semakin menanjak. Jalur terdiri dari bongkahan-bongkahan batu yang terpecah-pecah membuat susah untuk memilih pijakan. Istirahat, foto-foto. Jalan lagi.
Di Pos Sanghyang Popoh Kami sadar fisik kami sudah lemah namun entah mengapa keinginan untuk mencapai puncak itu mengalahkan segalanya, puncak Cery yang terluka karena tali Carrier yang buruk itu, pundakku juga terasa terbakar. Cery berjalan didepan masih menenteng jerigen seperti juga saya. Raden dan Novan kami tinggal di belakang maaf.Den, Van, lambreta sih kalian,, hehehe.
Saya dan Cery sampai di sebuah persimpangan Apuy dan Palutungan. Apuy adalah jalur lain ke puncak Ciremai yaitu dari arah kota Majalengka. Kami duduk disitu, foto-foto sambil menunggu Novan dan Raden yang jauh dibawah. Jalanan semakin terjal dan berbatu, berbahaya sekali ini kupikir. Lalu tak sengaja saya menginjak sebuah prasasti atau nisan yang menandakan beberapa tahun yang lalu ada seorang anak muda yang meninggal disitu. Oh jadi ngeri juga. Tapi biarlah kami tak ambil pusing.
Persimpangan Jalur Apuy dan Palutungan
Karena disitulah baru kami sadar, kami sudah ada diatas awan!!! Sungguh Indah tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Langit biru membentang luas, hanya biru sejauh mata memandang, tampak gunung di kejauhan mungkin Gunung Slamet yang berdiri gagah.. awan-awan berpautan seperti kapas, menggumpal-gumpal. Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya Allah. Aku merasa aku sangatlah kecil. Tak berarti apa2 dibandingkan dengan kebesaranMu. Tak pikir panjang, foto-foto terussssss.
Awan dibawah kami
GUA WALET
Senangnya hatiku melihat gua wallet di kejauhan, itu berarti tinggal 100 meter lagi pendakian, yang memang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan 100 meter di jalan datar. Kami putuskan untuk istirahat dulu disitu, tapi Novan tak mau turun ke Gua Walet dengan alasan jauh dan untuk menghemat energi, padahal saya sudah turun dibawah. Tapi ya sudah akhirnya kami makan disitu. Diatas Gua Walet. Dengan sinar matahari yang sangat menyengat membakar kulit dan membuat kulit semakin menghitam. Di kejauhan terlihat mendekat 4 orang yang turun dari puncak. Dan kami pun ngobrol, mereka dari bekasi katanya, dan kami bersalam-salaman dan mereka melanjutkan turun. Bertemu lagi dengan manusia, membangkitkan lagi semangat kami
SUMMIT ATTACK
Track semakin sulit, tanaman eidelweiss sudah habis, tak ada lagi tumbuhan hidup,berarti sudah dekat dengan kawah ini. Saya lihat kebawah ada Raden tanpa Novan, saya teriak-teriak “CERY!! CERY!!” terus2an tapi dia tidak menjawab, bikin saya panik. Ah kemana dia. Sialan!.. saya terus mendaki dan mendaki langkah demi langkah, semakin terjal dan berbatu, kemiringan semakin parah.
Hati berdegup kencang, saya lihat ke arah puncak, itu seperti ujung. Tapi berpikir lagi apakah kali ini benar2 puncak karena dari bawah pun puncak sudah terlihat dekat padahal tidak. Namun kali ini lain rasanya, angin bertiup semakin kencang, menderu, kaki terus melangkah keatas berpijak sekenanya, tangan meraih tembok gunung yang bisa dipegang, dan akhirnya pegangan ini terasa lain. Saya angkat tubuh saya dengan sekuat tenaga. Ternyata ini mulut kawah. Subhanallah. Rasa sakit di pindak dan di kaki pin kontan hilang. Peresaan bercampuraduk tak karuan.
Saya teriak-teriak. Raden!! Novan!!. Puncak oy!! Puncak!!, saya terharu sekali sampai menitikkan air mata.. akhirnya. Perjuangan berat ini mengantarkan kami ke PUNCAK TERTINGGI JAWA BARAT. Huuuu!!! HUUUU!!! Saya teriak teriak kegirangan, saya lihat Cery yang sedang Sholat dikejauhan! SAya lari ke arah Cery. Duduk dan melamun. Terharu. Saya lihat Raden sedang berjalan menuju kami. Menunggu-nunggu novan sambil meneriakkan namanya dan ternyata dia juga sudah ada masih mendaki.
PUNCAK CEREMAI
Kami berkumpul diatas sana. Di Puncak Ceremai. Di sore itu. 3058MDPL. Diatas awan. Diatas Jawa Barat. Bersenda gurau. Berfoto-foto. Menghabiskan waktu sampai puas. Soalnya kapan lagi kami bisa kesini. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Langit di sekeliling kami beserta burung elang yang sejak tadi terbang mengelilingi kami. Gumpalan-gumpalan awan yang selalu membuat saya takjub. Ingin rasanya menangis bahagia, ingat keluarga di rumah, ingat pacar saya, ingat teman-teman Spartapani. Ingat Iman Kustaman.
Karena kalianlah semangat yang sejati bagi kami..
SPARTAPANI DI PUNCAK TERTINGGI JAWA BARAT
Pukul 16.00 di atap Jawa Barat.
Suara petir menggelegar, awan dibawah terlihat menghitam dan bercahaya berbarengan dengan suara petir.
Masih Tak tahu apa yang menanti kami di perjalanan turun LINGGARJATI.
BERSAMBUNG
LANJUTIN JANGAN??