
Dahulu kala.. 14 abad setelah lahirnya Nabi Muhammad, yaitu tahun 2000an.. hiduplah seorang remaja lucu dan tampan yaitu saya sendiri. Waktu itu si saya masih kelas 1 SMA di SMUN 1 Bandung, saya kebetulan di kelas 1-A, kenapa dikelas 1-A? karena mungkin saya pandai jadi ditempatkan dikelas unggulan, ya saya memang pandai waktu itu. Saya berteman dengan orang-orang yang aneh, kenapa saya bilang aneh? karena kalo ga aneh ya ga seru. Aneh aja ya.. katanya pandai tapi aneh? gimana sih? Ya orang pandai biasanya aneh kayak Einstein dan Hawking. Tapi Roy Suryo itu sudah aneh tapi bodoh.. ampun.. kau ini makhluk apa..
Suatu hari di musim apa saya lupa, hari apa saya lupa, jam berapa ya jam sepulang sekolah, saya, Dudi, Ravinsa, Arlie, Irfan Bogel, Aboy , Marcut, Issey dan juga Cokie merencanakan sesuatu, tapi kami tidak rapat segala karena merencanakan sesuatu yang biasa saja, jadi tak perlulah dirapatkan. yaitu main ke rumah Ravi, Ravi mana? Ya Ravinsa, supaya mudah saja manggilnya Ravi, masa “ke rumah Nsa”, kan aneh. Dan Kami pun akhirnya kesana dengan menggunakan angkot karena kami tak mau berjalan kaki, disamping jauh ya menghemat waktu juga dan kami tidak ngirit seperti Ricki dan Ricko si kembar irit itu. Rumahnya Ravi di daerah ciateul (artinya air yang gatal) tapi ternyata tidak gatal, kalau memang benar gatal airnya, si Ravi pasti sudah Budug, tapi toh tidak, malah yang budug itu si Cokie.
Dan sampai lah kami di rumah Ravi, disana si Cokie ini ternyata membawa VCD film, filmnya ya ada gambarnya, filmnya film itu, film apa ya. aduh gimana ya bilangnya ya, film “perang” lah biar agak halus karena filmnya ceritanya ya memang sedang “perang” antara pria dan wanita. Saya yang waktu itu masih lugu dijerumuskan oleh teman saya untuk menonton film “perang” itu, ya Tuhan ampuni aku, waktu itu aku belum berilmu. Dan anak2 pun segera tertarik untuk menontonnya, sedangkan saya tidak.. karena saya tau itu tak baik. Sorry ya fren. Tapi Ravi bilang, “tong waka, engke we aya keneh teteh urang, keudeung deui ge indit da” ternyata tetehnya Ravi emang ada, teteh.. teteh siapa ya lupa.. ya sebut saja Bunga, begitulah. Ya kami pura-pura duduk-duduk, baca-baca, makan-makan tapi kami tidak pura-pura makan, kami makan betulan, dikunyah lalu ditelan betulan, tak ada yang makan pura-pura.
Beberapa waktu kemudian teh Bunga ini terlihat mau berangkat. Si Cokie ini udah senyum-senyum saja, karena memang begitu kelakuannya, selalu senyum2 mencurigakan. Lalu pergi lah si teh Bunga ini menuju moblnya yang diparkir lumayan jauh dari rumah.. Cokie pun langsung mengeluarkan VCDnya dan langsung memberikannya ke Ravi. “ayeuna setel vi”, lalu kata ravi “kela can jauh bisi balik deui”.
Tak lama kemudian berlangsunglah pemutaran film “perang” itu.. saya duduk di dekat pintu depan dengan Bogel, lalu didepan saya ada Ravi, Cokie, dan Issey yang terdepan bersama Dudi, Marcut dan Aboy. Film “perang” itu membuat semuanya terpaku membisu, entah kenapa padahal difilmnya tak ada yang seru menurut saya, sehingga saya hanya tertidur atau nundutan lah sementara yang lain serius. Katanya perang tapi kok ga pake baju, perang apa ini? Siapa yang bilang perang? Ya saya, terserah saya, saya yang punya cerita.
Tiba-tiba, si Cokie dan Aboy Keluar ke depan rumah Ravi, memang tadi Aboy sudah janji mau mencukur rambut itu si Cokie, berarti tidak tiba-tiba. Lalu kata Cokie ke Ravi, “Vi, boga gunting cukur teu atawa alat cukur elektrik?”. “euweuh euy ay age cukur kumis nu elektrik jeung gunting nu tadi dipake gunting indomie” kata Ravi. “nya bae lah eta oge bisa da si cokie mah buukna ipis” jawab Aboy. Lalu saya bilang apa? Ga bilang apa2 karena saya lagi tidur. Saya hanya mendengarnya.
Mereka semua sangat khusyu nonton itu film “perang’, lebih khusyu dari orang yang berdoa di masjid, atau mungkin mereka sedang berdoa, mungkin mendoakan orang di film tersebut agar selamat. sementara Aboy sedang serius mencukur rambut si Cokie, terdengar suara mesin pemotong kumis elektrik itu tak brenti-brentinya berbunyi, terkadang berhenti tapi bunyi lagi. Kenapa? Ga tau saya kan lagi merem ceritanya, jadi saya gak liat. Kasian mesin itu dipaksa potong rambut ijuk Cokie, kenapa saya bilang begitu? Karena memang seperti ijuk, bisa dijadikan sapu.. sebenarnya kalau cokie ingin wirausaha dia bisa produksi sapu ijuk dan untung besar! Bodoh kau Cok!
Aduh Itu lihat si Dudi, Marcut dan Issey orang2 terdepan di hari itu, maksudnya duduk paling depan dekat layar TV, aneh padahal dari jauh juga kelihatan, tapi kenapa dekat2 sekali, mungkin begitulah sifat mereka. Dudi dan Issey mukanya merah ga tau kenapa, malu apa? Tapi malu karena apa, kok serius sekali, ampun.. mengerikan sekali melihatnya, Ravi dan Bogel juga terlihat asyik sambil sesekali melihat keluar jendela, mungkin melihat si Cokie dan Aboy yang kadang2 mengeluarkan suara tawa, suara itu dikeluarkan terus, tapi ada lagi ada lagi, aneh. mereka jadi pengen tau aboy dan cokie ketawa kenapa kali ya, tapi ternyata mereka lebih tertarik menonton film “perang itu”, saya? Saya ya kadang tidur kadang baca majalah dan kadang makan kue.
Lalu kok tiba-tiba si Aboy dan Cokie kok tak ada suaranya, lalu terdengar pintu pagar seperti dibuka. Ravi langsung terlihat panik, ternyata ada teh Bunga, “vi.. vii..” haduh semuanya langsung panik, Ravi berusaha menekan berkali-kali sekuat tenaga tuts tuts pada remote untuk mematikannya, padahal tidak usah pakai sekuat tenaga juga bisa, tapi saya sengaja tulis biar dramatis saja.. tetapi sialnya.. macet, film “perang” itu terus berjalan.. dan terbukalah pintu itu oleh teh Bunga yang sudah senyum-senyum. Ravi juga senyum-senyum, kenapa ya kok aneh, mungkin tradisi keluarga mereka yang mengharuskan senyum-senyum jika ketemu satu sama lain.. ah sungguh keluarga yang aneh.
“ooh lagi nonton ini”… kata teh Bunga.. semuanya membisu, “ga apa-apa kok, asal jangan sampai…. Vi, kunci mobil ambilin ketinggalan”.. saat itu saya berfikir, dia bilang jangan sampai…. jangan sampai apa teh? Tapi waktu itu saya tidak berani tanya langsung karena saya lagi merem, mungkin nanti akan saya temui dia dan bertanya,
“waktu dulu bilang jangan sampai.. jangan sampai apa teh?”
ah biar ku sms Ravi saja.
Sementara Ravi mengambil kunci didalam, Dudi pura2 tiduran baca majalah, Marcut saya lupa kamu lagi puira-pura apa dan kamu juga mungkin lupa jadi saya bilang saja Marcut lagi pura-pura lucu padahal ga lucu sama sekali, Bogel pura-pura tidur juga, dan Issey yang terdepan itu tak tau mau pura2 apa dia karena yang terdekat dengan dia hanyalah keler kue, ya dia pura-pura makan kue, tapi ditelan dan dikunyah beneran. jadi dia tidak pura2, dia makan kue sambil senyum-senyum ke teh Bunga tapi teh bunga tidak membalas senyum Issey, bukan karena dia sombong, tapi karena dia tidak lihat issey senyum, sekarang muka issey merah, malu beneran. salutlah buat issey.kemarin2 salut buat Marcut, kali ini saya salut buat Issey.
Dan pergilah teh Bunga itu, kali ini dia pergi beneran dan mungkin malamnya pulang lagi atau mungkin tidak pulang karena menginap dimana gitu saya tak tau, tanya saja Ravi. Cokie dan Aboy, mereka tertawa-tawa tak terkendali melihat kami yang tertangkap basah nonton film “perang”. “goblog si aboy jeung si cokie, teu beja-beja aya nu datang” teriak Dudi dan diiyakan oleh yang lainnya. Setelah itu tamat lah film “perang”nya.
Kami langsung keluar melihat dipotongnya rambut si Cokie oleh si Aboy. Kejam sekali si Aboy, rambut tak berdosa itu kau potong tanpa ampun. “vie macet euy alat cukurna, buuk si Cokie nyarangkut dijero jadi macet embung hurung” kata Aboy. Dan alangkah terkejutnya kami melihat Cokie yang rambutnya sudah Botak setengah di bagian depan, sementara bagian belakangnya masih rancung-rancung. Hahahaha semuanya tertawa. Disitu saya langsung teringat Wong Fei Hung, karena memang terlihat seperti itu si Cokie.. haduh temanku seperti Pendekar Cina!
“urang diteruskeun di tempat cukur we lah, vie nginjeum topi” kata Cokie. Kata Ravi “aya ge topi SMA” tapi Cokie tidak mau.. ya bayangkan saja anak Punk pake topi SMA. Akhirnya kami semua pulang dengan cerita dibenaknya masing-masing. Cerita yang mungkin sekarang mereka sudah lupa.
Waktu itu saya membayangkan, gimana itu para tukang cukur melihat si Cokie yang kayak Wong Fei Hung gitu.. ya pastilah mereka tertawa juga seperti kami.
Sekarang Cokie sudah jadi AKABRI AL, dan sisanya ya tetap jadi orang dan masih hidup dan punya FB tidak seperti kamu Cok ABRI yang culun.. Alhamdulillah. Cokie yang culun itu sekarang sudah gagah, rambutnya juga sudah tidak seperti wong fei hung yang botak di depan, kenapa? Ya karena dia tentara, mana ada tentara rambutnya kaya wong fei hung, mungkin di Cina ada, tp masa iya? Duhai Cokie, kamu cepatlah buat FB.
Teman-teman.. itulah ceritanya. Saya hanya sekedar mengingatkan bahwa kejadian itu memang pernah terjadi.. lebih dan kurangnya saya tak tau karena sudah lama jadi saya lupa dan memang saya pelupa. Tapi garis besarnya saya masih ingat. Kalian mungkin sudah lupa kejadian itu, tapi saya tidak.. mana bisa saya lupa pernah ketemu Wong fei hung yang ternyata teman saya sendiri.. juga Marcut Guru Penjas yang Legendaris..
PS : Duhai Ravi, siapa sebenarnya nama tetehmu? Biar saya Add di FB